ARF News
Senin, 9 November 2009 Peneliti Lakukan Pengkajian Terkait Perdamaian dan Pembangunan Aceh
Banda Aceh – Aceh Recovery Forum (ARF) bersama USAID – Serasi yang didukung
Pemerintah Amerika Serikat mengumpulkan para peneliti di Aceh dan Jakarta untuk
melakukan pengkajian terhadap kondisi Aceh saat ini, khususnya terkait
perdamaian berkelanjutan dan pembangunan Aceh. Forum penelitian tersebut diberi
nama Peace Advisory Committee (APAC).
Direktur Aceh Recovery Forum, DR Humam Hamid mengatakan bahwa tanpa
menafikan kemajuan yang telah dicapai selama ini, dirasakan masih perlu
dilakukan upaya penguatan perdamaian melalui strategi pembangunan yang
berkelanjutan. “Pengkajian untuk melihat sejauh mana perkembangan Aceh setelah
lepas dari konflik dan pascatsunami. Hasilnya nanti akan menjadi rekomendasi
bagi para pembuat kebijakan, di Aceh dan pusat,” ujarnya di Banda Aceh, Selasa
(10/11).
Menurutnya, dalam mengumpulkan bahan, para peneliti mendapatkan informasi,
pandangan dan sikap dari banyak pihak; pejabat publik, ulama, petinggi TNI dan
polisi, lembaga masyarakat sipil dan masyarakat secara umum lainnya. Sehingga
nantinya diperoleh sebuah rekomendasi yang baik sebagai langkah kongkrit dalam
membangun Aceh ke depan, tanpa melupakan peranan masyarakat sipil sebagai
pelaksana, penasehat dan penerima manfaat.
Program Manager APAC, Jeliteng Pribadi menyebutkan ada sembilan peneliti
dengan berbagai keilmuan yang dilibatkan untuk menulis kondisi kekinian Aceh.
Mereka adalah Prof Yusni Sabi (mantan Rektor IAIN), Prof Irwan Abdullah (Dekan
Fakultas Hukum Pascasarjana UGM), DR Rizal Sukma (Centre for Strategic and
International Studies - CSIS), Letjen (Purn) Agus Wijoyo (pemerhati keamanan
dan pertahana), DR Nazamuddin (Akademisi Unsyiah), Syarifah Rahmatillah (MISPI
Aceh), Islahuddin (Akademisi Unsyiah), Mawardi Ismail, MH (Akademisi Unsyiah)
dan DR Humam Hamid (pengamat sosial Aceh)
Kajian dilakukan dalam lingkup penguatan perdamaian, rekonsiliasi dan
reintegrasi Aceh, penegakan hukum, syariat Islam, ekonomi Aceh dan pembangunan
Aceh secara keseluruhan. “Peneliti melakukan pengkajian sesuai keilmuan yang
mereka kuasai, kemudian menuliskan hasilnya dalam sebuah konsep, apa yang
dibutuhkan Aceh ke depan dan bagaimana membangun kapasitas masyarakat yang
baik. Hasilnya akan diseminarkan dan dipublikasi secara luas,” ujar Jeliteng.
Program ini didukung oleh banyak pihak. Menurut Jeliteng, Gubernur Aceh
Irwandi Yusuf telah menyampaikan dukungannya kepada kegiatan tersebut. Pemerintah
Aceh berjanji akan membantu semaksimal mungkin, agar didapat sebuah hasil
rekomendasi yang baik, guna menjadi bahan kajian dalam membangun Aceh.
Sementara itu, Panglima Kodam Iskandar Muda, Mayjen Soenarko mengatakan
akan membantu sepenuhnya apa saja informasi yang dibutuhkan oleh tim peneliti
dalam kerjanya. Bahkan dalam audensi dengan Tim APAC, Panglima Kodam tersebut
bicara blak-blakan terhadap perkembangan perdamaian di Aceh. “Karena saya
sangat mendukung dan berkomitmen terhadap menjaga perdamaian Aceh ini. Kami komit
untuk tegakkan damai,” ujarnya saat menerima Tim APAC di ruang kerjanya.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh
(DPRA), Hasbi Abdullah. “Saya menerima baik hal-hal seperti ini, setidaknya
nanti ada sebuah rekomendasi dan akan menjadi pedoman kami dalam menjalankan
tugas lebih baik,” ujarnya kepada Tim APAC.
Dia mengatakan, saat ini yang menjadi fokus parlemen Aceh adalah bagaimana
menghidupkan perekonomian rakyat Aceh, sehingga tercipta masyarakat yang
mandiri. Dia meminta Tim APAC dapat juga melakukan penelitian bagaimana upaya
yang baik dalam membangun perekonomian rakyat. “Untuk membangun ekonomi, saya
juga berharap Aceh teruslah damai.”
Dalam audensi bersama Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Aceh, Brigjen
Bambang Suparno juga menyatakan dukungannya terhadap kegiatan penelitian itu.
“Apa saja data yang dibutuhkan dari kami untuk penelitian, kami bisa
memberikannya kepada tim,” ujarnya.
Dalam interview bersama peneliti, Bambang menilai secara umum kondisi Aceh
saat ini sudah kondusif. Masyarakat juga sudah bisa hidup dalam suasana damai
dan melupakan konflik dulunya. Berbagai program juga telah dilakukan pihak
kepolisian dalam peningkatan kapasitas personel di jajarannya. Dia berharap,
masyarakat terus mendukung polisi dalam melaksanakan tugasnya. [aw]