Serambi Indonesia
Selasa, 18 Agustus 2009 Program Daging Murah Gagal
BANDA ACEH - Program Pemerintah Aceh untuk menyediakan daging sapi
dengan harga murah pada meugang puasa tahun 2009 ini gagal terealisasi
tepat waktu, karena 3.000 ekor sapi yang diimpor dari Australia dan
akan dipotong pada Kamis dan Jumat (20/8) besok, menurut importirnya,
PT Kuta Malaka Leumona, Aceh Besar, baru akan masuk pada hari ketiga
Ramadan tahun ini.
“Ini artinya, program menjual harga daging murah di bawah harga pasar
pada meugang puasa tahun ini kembali gagal terlaksana,” kata Wakil
Ketua Komisi B DPRA yang membidangi peternakan, Muslim Aiyub, kepada Serambi, usai bertemu Sekretaris Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh, Asnawi Yusuf, Selasa (18/8).
Muslim Aiyub, didampingi dua anggota komisi B, Basri Arita dan Cut
Rahmiaty, dalam pertemuannya Asnawi Yusuf mengatakan tujuan kunjungan
kerja mereka ke dinas tersebut adalah untuk memastikan apakah program
yang telah direncanakan Gubernur Irwandi Yusuf dua tahun lalu untuk
menjual daging murah atau lebih rendah dari harga pasar pada meugang
puasa tahun 2009 ini bisa dilaksanakan atau tidak.
Informasi itu sangat penting disampaikan kepada rakyat, kata Muslim,
karena menurut evaluasi Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, setiap
meugang puasa harga daging di Aceh tertinggi di Indonesia. Jika di
Jakarta dan Medan harga daging menjelang puasa hanya Rp 60.000-Rp
70.000/kg, di Aceh justru melonjak dari Rp 80.000 mencapai Rp
100.000-Rp 120.000/kg.
Harga setinggi itu terjadi, setelah Aceh dilanda konflik bersenjata dan
tsunami. Sepuluh tahun lalu karena jumlah populasi ternak besar seperti
sapi dan kerbau di Aceh masih banyak, paling tinggi harga daging
meugang puasa antara Rp 50.000-Rp 75.000/kg. Menanggapi pertanyaan
Komisi B DPRA, Sekretaris Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh,
Asnawi Yusuf, mengatakan menjual daging murah pada meugang puasa tahun
ini sudah menjadi program dinas tempatnya bekerja. Pemerintah Aceh
melalui dinas tersebut telah menggalang kerja sama untuk mengimpor sapi
potong ke Aceh satu minggu menjelang hari H meugang puasa tahun ini.
Tapi karena transfer atau pengiriman uang pembelian sapi potong itu ke
Australia terlambat dilakukan, sehingga sapi potongnya baru akan tiba
di pelabuhan tujuan, yakni Pelabuhan Krueng Raya, Aceh Besar, pada hari
ketiga puasa.
Kerja sama ini dilakukan, kata Asnawi, dengan maksud supaya masyarakat
yang kurang mampu bisa membeli daging sapi dan kerbau pada meugang
puasa dengan harga terjangkau. “Sapi Australia yang akan kita impor ke
Aceh itu, dagingnya nanti akan dijual di bawah Rp 80.000/kilogram,”
kata Asnawi.
Masyarakat yang mampu ia persilakan membeli daging sapi lokal seharga
Rp 80.000-Rp 100.000/kilo. Sedangkan yang kurang mampu, bisa memilih
daging sapi impor Australia yang harganya lebih rendah dibanding harga
sapi lokal. Tapi karena sapinya baru akan masuk pada hari ketiga puasa,
maka program menjual harga daging sapi murah pada meugang puasa ini
belum bisa dilaksanakan. “Insya Allah baru akan terlaksanan pada
meugang Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha nanti,” ujar Asnawi.
Untuk menampung 3.000 ekor sapi yang akan diimpor itu, ungkap Asnawi,
importirnya Safrullah, telah membangun kandang sapi di Kecamatan Kuta
Malaka, Aceh Besar. Selaku kontraktor ia juga kecewa, akibat
keterlambatan transfer uang ke Autralia, sehingga program menjual
daging murah kepada masyarakat belum bisa dilaksanakan tepat waktu pada
meugang puasa ini, karena sapi potong yang diimpor dari Australia baru
akan masuk ke Aceh pada hari ketiga Ramadan (24 Agustus 2008).
Jangan berspekulasi
Menyikapi masalah ini, Wakil Ketua Komisi B DPRA, Muslim Aiyub dari
Fraksi PAN dan dua anggota komisi, Basri Arita dan Cut Rahmiaty,
mengimbau pedagang daging untuk tidak berspekulasi dalam penetapan
harga daging meugang pada puasa ini. Mereka sarankan menjual daging
sapi dan kerbau pada meugang puasa ini, sama dengan harga daging
sehari-hari, yaitu Rp 70.000-Rp 80.000/kg.
Kenaikan permintaan daging dari masyarakat pada meugang puasa ini, kata
Basri Arita dari Fraksi PBR, hendaknya tidak diikuti dengan kenaikan
harga, melainkan diatasi dengan menambah jumlah ternak sapi dan kerbau
yang akan dipotong. Menurut pantauan Komisi B, untuk memenuhi
permintaan kenaikan daging pada meugang puasa ini, sejumlah pedagang
telah memasok sapi potong dari Lampung. Harga sapi Lampung jauh lebih
rendah daripada harga sapi lokal. Untuk itu, dalam penetapan harga pada
meugang besok, daging sapi Lampung itu cukup dijual paling tinggi
seharga Rp 80.000/kg. Sebab, menurut petugas Rumah Potong Hewan di
Banda Aceh, harga pokok daging sapi Lampung itu setelah tiba di Banda
Aceh hanya Rp 66.000/kg. “Jadi, jika dijual Rp 80.000/kg, itu sama
dengan harga harian. Berarti, pemasoknya sudah untung Rp 10.000-Rp
14.000 untuk setiap kilonya,” ujar Cut Rahmiaty dari Fraksi PDI-P. (her)