Kamis, 13 Desember 2007
Penulis : M Sambo Pembangunan Aceh Akan Dikupas Pada Konferensi Internasional
Lhokseumawe,
acehmagazine.com
Sebuah
konferensi berlebel internasional kembali akan digelar akhir Desember nanti di
Universitas Malikussaleh Lhokseumawe. Kali ini, “duek pakat” internasional itu membahas
soal pembangunan Aceh. Direncanakan, Konferensi Internasional untuk Pembangunan Aceh Ke-2 itu
digelar pada 29-30 Desember mendatang.
Kegiatan
serupa sebelumnya juga pernah diselenggarakan di University Kebangsaan Malaysia, Bangi,
Malaysia pascatsunami
lalu. Konferensi Pembanguan Satu yang disebut PAPA 1 itu menghasilkan seruan
umum tentang perlunya perencanaan model pembangunan Aceh setelah tsunami.
Untuk
konferensi kedua, Unimal mendapat kehormatan menggelar even tersebut. "Sejauh
ini persiapan yang matang terus dilakukan oleh panitia," kata Kepala
Bagian Humas Unimal M. Husen, MR, kepada acehmagazine.com, Kamis (13/12).
Dia menyebutkan,
tujuan kegiatan itu mengembangkan pemikiran demi kemajuan pembangunan di Aceh
yang lebih baik serta untuk kemaslahatan masyarakat di tanah rencong. Konferensi
internasional tersebut mengusung tema ‘on
Aceh development, froma bitter past
towars a better’.
Sementara
Ketua Panitia Al Chaidar, menyebutkan, sejauh ini 20 pemakalah dari Malaysia sudah
menyatakan komitmen untuk ambil bagian dalam konferensi pembangunan Aceh itu.
"Kalau dari dalam negeri kita berharap, sekitar 30 orang yang hadir,"
ujarnya melalui telepon selular. Penulis buku Aceh Bersimbah Darah ini
menyebutkan, semua persiapan semakin dimatangkan oleh panitia pelaksana.
Dia
menambahkan, untuk seluruh peserta dari luar negeri, pihaknya mengundang 40
peserta dari berbagai kampus. "Kita belum tahu pasti total yang hadir.
Jumlah ini baru sebatas komitmen," kata dia. Menyangkut hasil yang
diharapkan dari konferensi internasional itu, Al Chaidar mengatakan konferensi
akan membicarakan pertanggungjawaban para donor, BRR, UN Agencies dan LSM Asing
sebagai “aid predators” dalam proses pembangunan Aceh. “Mereka selama ini hanya
menuduh buruknya SDM kita sebagai penyebab melencengnya pertanggungjawaban
mereka,” ketus Al Chaidar yang ketika dihubungi masih di Jakarta.
Baik Al
Chaidar maupun Husen berharap kegiatan terakbar yang baru pertama kali
diselenggarakan universitas negeri kedua di Aceh itu berlangsung lancar. “Kegiatan
itu positif, apalagi ini kan kajian
ilmiah untuk masa depan Aceh. Sehingga hasil dari konferensi nanti, bisa
menjadi acuan untuk pembangunan Aceh ke depan,” Safrizal, mahasiswa yang juga Wakil
Ketua BEM FISIP Unimal. [M.Sambo]