Sabtu, 27 Oktober 2007
Penulis : Rizky Illegal Logging Sebabkan Harimau Ganas
Banda
Aceh, acehmagazine.com
Pembalakan
liar yang 'mengganas' di hutan Aceh, menjadi pengaruh tingginya intensitas
gangguan dari satwa-satwa di kawasan itu. Selama ini sudah banyak masyarakat yang menjadi
korban akibat keganasan penghuni hutan. Instansi baru berjanji menanggulanginya.
Direktur
Flora Fauna Indonesia (FFI), Graham Usher kepada acehmagazine.com Sabtu (27/10)
mengaku tindakan ilegal logging juga menjadi faktor yang sangat berpengaruh
terhadap peningkatan intensitas gangguan dari satwa-satwa liar di belantara
Aceh.
“Maraknya
illegal logging membuat satwa-satwa
liar tersebut semakin mengganas. Padahal pembalakan hutan Aceh tidak memberi
pemasukan sedikit pun bagi pemerintah termasuk dari pajak. Masyarakatpun hanya
diuntungkan sesaat,” katanya.
Untuk
itu ditambahkan, pihaknya akan bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya
Alam (BKSDA), dan Yayasan Leuser Internasional (YLI) mengadakan survei untuk
menentukan daerah yang baik untuk memindahkan satwa-satwa liar tersebut.
Terkait
dengan masalah tersebut, BKSDA berjanji akan segera menurunkan tim
penanggulangan untuk meminimalisir gangguan satwa liar. Di antara tim yang akan
diterjunkan, terdapat dua pawang yang didatangkan khusus dari Riau. “Mungkin
hari ini dua pawang dari Riau itu telah berangkat menuju Banda Aceh. Kemudian
akan kita terjunkan ke lokasi kejadian,” ujar Andi Basrul, Kepala BKSDA yang
dihubungi terpisah.
Ditambahkan,
selain menurunkan tim ke lapangan, BKSDA juga membentuk tim di daerah-daerah
rawan gangguan. “Kami telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat,
dan dalam waktu dekat ini tim tersebut akan dibentuk,” ujar dia.
Menurut
Andi, semakin maraknya perburuan-perburuan liar pada binatang yang menjadi
sumber makanan harimau, dan beberapa satwa liar lain. Mengakibatkan satwa liar
tersebut terpaksa turun ke perkampungan penduduk. “Itu yang menjadi penyebab
utamanya,” ujar Andi.
Pada
tahun 2007 tercatat 38 kasus gangguan satwa liar terhadap masyarakat. Lebih
rinci; gangguan gajah 23 kasus, harimau 10 kasus, dan buaya lima kasus. Korban
dari masyarakat sendiri mencapai sembilan orang meninggal dan 10 luka-luka. Di antaranya
akibat keganasan harimau yang menyebabkan lima orang meninggal dan tiga orang
luka-luka. Buaya dua orang meninggal dan lima luka-luka. Serta gajah yang
mengakibatkan dua orang meninggal serta dua luka-luka. [Rizky]