Selasa, 15 Juli 2008
Penulis : Adek Pertumbuhan Ekonomi Aceh Mengkhawatirkan
Menjelang pengakhiran masa tugas BRR NAD-Nias, pertumbuhan ekonomi Aceh dikhawatirkan anjlok. Terutama bila dalam masa-masa peralihan tugas BRR kepada Pemda akan mengalami guncangan. Pernyataan ini disampaikan T. Syafriza Sofyan, Deputy Multidonor Fund (MDF) pada diskusi publik Kesinambungan Rehabilitasi Rekonstruksi Pasca BRR di NAD hari ini (16/7) di Banda Aceh.
Lebih lanjut Syafriza menyatakan bahwa rehab rekon telah berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh. Namun, pertumbuhan ini lebih dikarenakan faktor kegiatan infrastruktur. Sementara, sektor-sektor yang mampu menopang ekonomi masyarakat dalam jangka panjang masih belum kelihatan.
Kondisi ini patut dicermati menjelang berakhirnya masa tugas BRR NAD-Nias dan lembaga-lembaga internasional yang berpartisipasi dalam rehab rekon.
Analisis Bank Dunia pada tahun 2007 menunjukkan bahwa rehab rekon belum mapu menekan tingkat kemiskinan di Aceh yang berjumlah 26,5 persen. Angka ini jauh melampaui tingkat nasional yang hanya sebesar 17,8 persen.
Bank Dunia memprediksi akan banyak orang yang kembali jatuh dalam kemiskinan bila terjadi goncangan pada akhir periode rekonstruksi.
Untuk mengatasi masalah ini, Syahriza menyarankan agar pembangunan ke depan harus menggunakan pendekatan pro-poor atau yang berpihak kepada kaum miskin. Oleh karena itu, sektor-sektor pertanian, perikanan dan UMKM merupakan sektor-sektor yang harus diperhatikan. Apabila sektor-sektor ini dapat dikembangkan, maka akan dapat menekan angka pengangguran sekaligus menekan angka kemiskinan.