Minggu, 15 Juni 2008
Penulis : dwi Sampoerna Foundation Didik Guru
Banda Aceh, acehmagazine.com
Sampoerna Foundation yang
didukung Credit Suisse Group Foundation (CSGF) telah mendidik 365 guru dan
kepala sekolah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang diharapkan bisa
membantu meningkatkan mutu pendidikan di daerah itu.
Direktur Komunikasi Sampoerna
Foundation, Sapto H Sakti di Banda Aceh, Senin menyatakan, program peningkatan
mutu guru itu sudah berjalan sejak November 2006 dan akan berakhir pada 21 Juni
2008 yang penutupannya berlangsung di Kabupaten Bireuen.
Ia menyatakan, gempa dan
tsunami yang terjadi di Provinsi NAD pada 26 Desember 2004 telah
menghancurkan sarana dan prasarana pendidikan di provinsi tersebut, sehingga
CSGF berusaha membantu perbaikan kualitas pendidikan di Aceh dengan program
Teacher Education and Training in Aceh (TETA).
Program tersebut menelan dana
Rp8 miliar yang merupakan dana hibah CSGF, sebuah yayasan yang
mengkonsentrasikan kegiatannya pada peningkatan kualitas pendidikan di kawasan
Asia. Dana tersebut sudah termasuk
program beasiswa 20 mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh.
Sapto menyatakan, peningkatan
kualitas guru menjadi fokus utama CSGF dalam upaya rekonstruksi dan
rehabilitasi Aceh, karena mereka percaya bahwa peningkatan kemampuan guru
adalah hal yang sangat vital sebagai investasi jangka panjang dalam
meningkatkan SDM.
Rata-rata angka kelulusan siswa
SMP dan SMA di Aceh pada tahun 2006 belum mencapai 50 persen. Hal ini
memberikan sinyal kepada CSGF untuk memperbaiki kualitas pendidik demi generasi
selanjutnya yang lebih baik, ungkap Sapto. Ia menyatakan, perbaikan
kualitas guru di Aceh sangat penting untuk proses rehabilitasi Aceh jangka
panjang.
"Jika bicara Aceh, maka
kita harus memilikirkan rehabilitasi jangka panjang yang dampaknya tidak saja
untuk para guru, tetapi juga peningkatan kualitas murid-murid yang diajarnya,
sehingga mereka akan menjadi generasi penerus yang lebih baik," ujarnya.
Data Depdiknas 2004-2005
menunjukkan bahwa saat tsunami, lebih dari 1.800 guru hilang. Kini, jumlah guru
di Aceh sebanyak 38.439 dengan persentase guru yang tidak memenuhi kualifikasi
akademis mencapai 25-35 persen.
Program TETA yang melibatkan
Unsyiah sebagai pelatih difokuskan pada penguasaan materi ajar, kemampuan cara
mengajar (pedagody), serta pengembangan kemampuan bahasa Inggris, komputer, dan
teknik komunikasi.
Keberhasilan
pelatihan itu diukur melalui evaluasi yang dilaksanakan pada setiap akhir
training dengan indikator nilai ujian sebelum dan sesudah pelatihan
berlangsung. Selain itu, pengukuran juga dilakukan melalui nilai akademis siswa
dan tingkat kelulusan dibandingkan sebelum dan sesudah pelatihan.Program TETA
tersebut dilaksanakan di Bireuen, Kota Lhokseumawe, Banda Aceh, Aceh Besar, dan
Kabupaten Pidie. [dwi]