Kamis, 15 Mei 2008
Penulis : Ansar Warga Ulee Lheue Blokir Jembatan
Banda
Aceh, acehmagazine.com
Puluhan
masyarakat Ulee Lheue melakukan aksi blokir pembangunan jembatan penyeberangan
di Desa Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, Jumat (16/5). Mereka
menuntut pemerintah segera segera membayar ganti rugi. Para keluarga korban
yang belum mendapatkan ganti rugi akibat pelebaran jalan dan jembatan tersebut
membawa beragam poster serta mengusir sejumlah pekerja yang sedang bekerja di sana. Mereka mengancam,
jika tak kunjung dibayar, akan memblokir tanah itu hingga pembayarannya kelar.
Dalam aksi
yang dikawal anggota Polsek Ulee Lheue itu berjalan tertib bahkan tak
mengganggu lalu lintas ke pelabuhan. Mereka mengusung berbagai pamplet dan
spanduk berisi tuntutan ganti rugi tanahnya. “Anak dan isteri kami sudah
hilang, jangan sampai hak kami juga hilang” begitu bunyi pamplet yang diusung
warga.
Kordinator
aksi, Bakhtiar, didampingi Kepala Dusun Agus Dasawarsa kepada wartawan
mengatakan, aksi itu dilakukan agar ada kepedulian pihak Pemerintah kota (Pemko) Banda Aceh,
sebagai fasilitator pembayaran tanah untuk menuntaskan hak mereka.
Menurut
pria paruh baya ini, sedikitnya 80 warga setempat yang tanahnya terkena proyek
tersebut belum memperoleh ganti rugi. "Hanya delapan warga yang mendapat
ganti rugi, itupun secara diam–diam. Mereka umumnya para aparat desa. Bahkan di
antara mereka, ada tanahnya yang tak kena proyek tapi dibayar juga," sebut
Bakhtiar.
Dia
menjelaskan, warga sudah menyetujui pembayaran ganti rugi tanah dengan tim
penilai dari Pemko sebesar Rp350 ribu – Rp450 ribu per meter. Bukan hanya itu,
mereka juga sudah menandatangani surat
pernyataan perintah untuk segera mengosongkan tanah itu dari bangunan seperti
kios dan warung.
Kata dia,
dalam surat itu
disebutkan, setelah dikosongkan akan segera dibayar dalam dua tahap yaitu pada
6 Mei dan 31 Mei 2008. Namun, tambah Bukhari hingga kini mereka belum
mendapatkan pembayarannya. "Kami sudah taati semua, tapi kenapa sampai
sekarang belum dibayar. Padahal proyek sudah lama berjalan," papar korban
tsunami ini.
Kapolsek
Ulee Lheue Ipda T. Chairul W berusaha menfasilitasi warga agar bisa bertemu
walikota, tapi tak ditempat. Kemudian Chairul mengarahkan perwakilan warga
untuk bertemu dengan camat Meuraksa, Bakhtiar S.Sos di kantor kecamatan
setempat.
Seusai
pertemuan, camat Bakhtiar kepada wartawan mengatakan dalam pertemuan itu,
pihaknya dengan warga sepakat menyelesaikannya secara baik dan sabar. “ tak ada
lagi blokir, kita telah sepakat menyelesaikannya dengan cara baik-baik,” ujar
dia sembari berjnji akan menyampaikan tuntutan warga itu ke walikota.
Jembatan
yang memperluas jalur lintasan dari Kota Banda Aceh menuju Ulee Lheue, dibangun
Asian Development Bank (ADB) bekerja sama dengan Badan Rehabilitasi dan
Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias. BRR juga akan membangun dua unit jembatan di Desa
Laguna, dan Lamjamee. Pembangunan paket jalan dan jembatan itu didanai oleh ADB
sebesar Rp84,019 miliar. [ansar]